Prima Bali

logo prima bali

Eksplorasi Warisan Budaya di Museum Subak Tabanan

Eksplorasi Warisan Budaya di Museum Subak Tabanan

Kearifan lokal dari pulau bali memang sangat kental dan identik. Salah satu tempat yang bisa kamu kunjungi untuk mengenal kearifan lokal dan budaya masyarakat lebih jauh adalah Museum Subak Tabanan. Museum ini khusus menyajikan Informasi seputar system pengairan sawah tradisional Bali atau yang lebih dikenal dengan sebutan Subak. Museum ini adalah lembaga yang fokus pada sistem pertanian Bali yang memiliki ciri khas dengan prinsip dasar keberlanjutan “Tri Hita Karana,” sebuah gagasan tentang harmoni antara tiga elemen penyebab kebahagiaan (yaitu Tuhan, manusia, dan alam).

Sejarah Museum Subak

Sejarah Museum Subak Tabanan
Foto: Sejarah Museum Subak Tabanan (maps.google.com/museumsubaktabanan)

Sebelumnya, pada tahun 1975, seorang ahli adat dan agama yang berasal dari Provinsi Bali, I Gusti Ketut Kaler, memulai upaya untuk mempertahankan lembaga adat Subak sebagai bagian yang sangat penting dari warisan budaya nasional. Upaya ini kemudian menjadi dasar berdirinya Museum Subak. Daerah Tabanan dipilih sebagai lokasi museum karena merupakan wilayah dengan jumlah Subak terbanyak, luas lahan terbesar, dan memiliki peran kunci sebagai penyedia beras utama bagi Bali. Pada tanggal 13 Oktober 1981, Museum Subak diresmikan oleh Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra.

Dengan kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak dapat disangkal bahwa eksistensi dari Subak juga akan ikut terdampak. Jika hal ini terjadi, alat-alat tradisional yang telah digunakan dalam kehidupan agraris tradisional di Bali, terutama dalam konteks pertanian Subak, akan mengalami perubahan dengan cepat, dan sebagai akibatnya, akan semakin sulit untuk melacak dan mempertahankan semua perlengkapan yang telah lama digunakan dalam kehidupan pertanian tradisional tersebut. Kekhawatiran akan hal ini kemudian mendorong kesadaran akan pentingnya memelihara Subak sebagai bagian dari warisan budaya Bali. Dari sinilah, ide untuk mendirikan Museum Subak muncul sebagai usaha untuk melestarikan Subak sebagai bagian penting dari warisan budaya Bali.

Tradisi Subak

Tradisi subak
Foto: Tradisi Subak (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Subak adalah sistem yang sangat terorganisir. Petani yang tergabung dalam kelompok Subak mengatur jadwal untuk menggunakan air irigasi yang tersedia. Mereka bergiliran mengalirkan air ke petak-petak sawah mereka. Sistem ini diawasi oleh seorang kepala Subak yang dikenal sebagai “Kelian Subak.” Kelian Subak memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan penggunaan air dan mengambil keputusan penting.

Pada saat yang ditentukan, air dialirkan dari mata air ke kanal-kanal yang mengarah ke sawah-sawah anggota Subak. Setiap petak sawah memiliki saluran yang dapat dibuka atau ditutup untuk mengatur aliran air. Petani bekerja sama dalam proses ini, dan mereka tahu bahwa keseimbangan dalam penggunaan air adalah kunci keberhasilan sistem Subak.

Selain irigasi, Subak juga mencakup pengaturan waktu penanaman dan panen yang sering kali disesuaikan dengan kalender budaya Bali. Ini mencerminkan keselarasan Subak dengan tata waktu dan budaya Bali.

Representasi Identitas Budaya

Representasi Identitas Budaya
Foto: Representasi Identitas Budaya (wikipedia.org)

Museum Subak Tabanan tidak hanya merupakan tempat bersejarah atau pameran belaka, ini adalah pusat identitas budaya yang memainkan peran penting dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Bali, terutama dalam konteks pertanian Subak yang berkelanjutan. Berikut representasi-representasi identitas budaya Subak di Bali, yaitu:

  • Menekankan pentingnya sistem pertanian Subak dalam budaya Bali. Museum ini membantu menjaga dan mendokumentasikan sistem Subak ini sebagai bagian penting dari identitas budaya Bali.
  • Mencerminkan keberlanjutan lingkungan dan hubungan harmonis antara manusia dan alam yang mencakup kepedulian terhadap alam serta upaya untuk melestarikan lingkungan Bali.
  • Mempromosikan dan merayakan kearifan lokal masyarakat Bali, terutama para petani yang telah menjalani praktik Subak selama berabad-abad.
  • Mencerminkan seni dan kerajinan yang terkait dengan Subak dan budaya Bali yang mencakup seni lukis, patung, pahatan, dan kerajinan tangan.
  • Berfungsi sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat setempat dan pengunjung, membantu mereka memahami dan menghargai warisan budaya Bali, terutama Subak.
  • Ekspresi penghargaan dan penghormatan terhadap warisan budaya Bali, terutama dalam konteks pertanian Subak.
  • Mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam pemeliharaan dan pengembangan warisan budaya Bali. Identitas budaya museum mencakup kolaborasi dengan masyarakat setempat untuk melestarikan dan mempromosikan budaya Subak.
  • Memperkenalkan budaya Bali kepada dunia dengan mencerminkan upaya dalam mendukung budaya Bali dan Subak dalam skala global.

Koleksi Museum Subak Tabanan

Koleksi Museum Subak Tabanan
Foto: Koleksi Museum Subak Tabanan (maps.google.com/museumsubaktabanan)

Di Museum Subak Tabanan, terdapat sekitar 250 barang koleksi alat pertanian tradisional yang mencakup peralatan untuk berbagai tahap dalam proses pertanian, mulai dari pembukaan lahan hingga pengolahan hasil panen menjadi beras. Selain itu, terdapat juga patung-patung yang memiliki peran penting dalam dunia pertanian, seperti patung Dewi Sri, yang merupakan simbol kesuburan dan dewi padi, serta patung Rare Angon, yang adalah manifestasi dewa yang mengajarkan teknik bercocok tanam. Selain itu, museum ini juga memiliki banyak koleksi miniatur arsitektur bangunan tradisional Bali dan replika sistem distribusi air irigasi yang digunakan dalam pertanian Subak.

Subak Tabanan sebagai Objek Wisata

Subak Tabanan sebagai Objek Wisata
Foto: Subak Tabanan sebagai Objek Wisata (maps.google.com/subaktabanansebagaiobjekwisata)

Museum Subak terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 5b, Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Kamu membutuhkan sekitar 1 jam 30 menit dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan jarak sekitar 31-34 kilometer. Museum ini beroperasi pada hari Senin-Kamis pukul 08.00-15.30 WITA, dan hari Jumat pukul 08.00-12.30 WITA.

Melansir dari Kompas.com untuk tarif masuk Museum Subak bagi pengunjung lokal dimulai dari Rp5.000 untuk anak-anak dan Rp10.000 untuk dewasa, sementara bagi wisatawan asing, biaya masuknya dimulai dari Rp10.000 untuk anak-anak dan Rp15.000 untuk dewasa.

Museum Subak Tabanan dapat dijadikan referensi wisatawan yang ingin mengenal kearifan lokal lebih dalam terlebih lagi mempelajari sistem pertanian tradisional Subak. Jadi, kalau kamu berkunjung ke Bali, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Museum Subak Tabanan dan merasakan kekayaan budaya yang menawan.

Tertarik untuk mengunjungi museum yang kaya akan kearifan lokal ini? Segera hubungi Prima Bali Tour Services untuk mendapat insight dan informasi lebih banyak.