Prima Bali

logo prima bali
Pura Taman Ayun: Situs Ikonik Warisan Budaya Dunia

Pura Taman Ayun: Situs Ikonik Warisan Budaya Dunia

Pura Taman Ayun: Situs Ikonik Warisan Budaya Dunia

Pura Taman Ayun – Pulau Bali memang didominasi oleh mayoritas penduduk yang menganut agama Hindu, dan hal ini membuat setiap sudut pulau ini dipenuhi dengan pura. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa julukan “The Island of Thousand Temples” diberikan kepada Bali. Tak hanya sebagai tempat beribadah bagi pemeluk agama Hindu, pura-pura di Pulau Dewata ini juga kerap dijadikan destinasi berkat lanskapnya yang indah.

Berbicara soal pura, tak lengkap rasanya jika tidak membahas salah satu pura yang menjadi favorit para wisatawan, yaitu Pura Taman Ayun. Pura ini menawarkan panorama yang luar biasa, sesuai dengan arti namanya yang mencerminkan keindahan pura di dalam taman. Selain panoramanya, pura ini juga sarat akan nilai sejarah yang penting di pulau tersebut. Oleh karena itu, pada tahun 2002, Pemerintah Daerah Provinsi Bali mengajukan usulan kepada UNESCO untuk mengakui pura ini sebagai bagian dari Daftar Warisan Dunia. Akhirnya, pada tahun 2012, UNESCO secara resmi menambahkan Pura Taman Ayun ke dalam daftar situs warisan budaya dunia.

Melalui artikel ini, Prima Bali akan mengajak kamu untuk mengeksplorasi lebih jauh seluk beluk pesona Pura Taman Ayun serta informasi penting wajib kamu tahu sebelum mengunjungi destinasi yang satu ini.

Mengulik Sejarah Pura Taman Ayun

Sejarah Pura Taman Ayun
Foto: Sejarah Pura Taman Ayun (maps.google.com/puratamanayun)

Setelah mendirikan Pura Ulun Danu Beratan pada tahun 1624 Masehi, Raja I Gusti Agung Putu menyadari bahwa masyarakat Mengwi kesulitan untuk melakukan persembahyangan karena lokasi pura utama yang terlalu jauh. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membangun Pura Taman Ayun untuk digunakan oleh penduduk Mengwi. Pembangunan pura ini dimulai pada tahun 1632 Masehi dengan menggabungkan konsep arsitektur Bali yang merujuk pada Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi. Tetapi juga menggunakan teknik perancangan Tionghoa. Pura ini dirancang oleh seorang arsitek bernama Tan Hu Cin Jin, yang dikenal sebagai Ing Khan Ghoul, seorang keturunan Tionghoa yang menetap di Banyuwangi dan sahabat baik Raja yang sering dipanggil I Kaco. 

Proses pembangunan Pura sakral ini selesai dalam dua tahun, pada tahun 1634 Masehi. Seiring dengan perkembangan Mengwi menjadi sebuah kerajaan yang besar, Raja I Gusti Agung Putu memindahkan dan memperluas pura tersebut ke arah timur. Pura yang telah diperluas ini secara resmi dikenal sebagai Pura Taman Ayun. Setiap hari Selasa Kliwon wuku Medangsia bulan keempat tahun 1556 Saka, upacara piodalan diadakan di pura ini untuk merayakan ulang tahun berdirinya pura.

Pura ini mengalami beberapa kali renovasi besar selama sejarahnya. Renovasi utama dilakukan pada tahun 1937, lalu pada tahun 1949 dilakukan pembaruan pada kori agung, gapura bentar, dan pembangunan wantilan besar. Dua perbaikan berikutnya terjadi pada tahun 1972 dan 1976.

Pelinggih di Pura Taman Ayun

Pelinggih di Pura Taman Ayun
Foto: Pelinggih di Pura Taman Ayun (maps.google.com/puratamanayun)

Pura Taman Ayun juga mencakup pelinggih-pelinggih yang berfungsi sebagai tempat persembahan atau penyembahan dari beberapa pura di seluruh Bali. Maksud dan tujuan dibangunnya pelinggih-pelinggih tersebut adalah untuk memohon restu bagi keselamatan, kesejahteraan, dan kesuburan negara Kerajaan Mengwi. Pelinggih ini juga memberikan kesempatan kepada seluruh penduduk Mengwi untuk berpartisipasi dalam upacara keagamaan, seperti ajar-ajar, memendak sang pitara, dll.

Pura Taman Ayun juga memiliki pelinggih khusus untuk menyembah “Pasek Badak” yang merupakan tempat penyembahan rohnya Pasek Badak yang dihormati oleh seluruh Balaputra, termasuk para prajurit kerajaan. Selain sebagai tempat beribadah, Pura ini juga berfungsi sebagai taman yang digunakan untuk istirahat dan rekreasi oleh keluarga kerajaan Mengwi.

Daya Tarik Pura Taman Ayun

Daya Tarik Pura Taman Ayun
Foto: Daya Tarik Pura Taman Ayun (maps.google.com/puratamanayun)

Pura ini terdiri dari pelataran luar serta tiga pelataran dalam. Pelataran luar berada di sebelah luar kolam, dengan sebuah jembatan yang melintasi kolam untuk mencapai pintu gerbang yang berbentuk gapura.

Pada bagian awal pelataran, terdapat sebuah kolam yang dihiasi oleh bunga teratai. Di tengah kolam tersebut, terdapat sebuah monumen yang mengalirkan air ke sembilan arah yang berbeda sesuai dengan mata angin.

Kemudian pada pelataran kedua, terdapat relief-relief yang mengilustrasikan sembilan dewa penjaga arah mata angin, yang dikenal sebagai Dewata Nawa Sanga. Di pelataran ketiga, wisatawan akan menemukan berbagai struktur seperti Meru, Candi, Gedong, Padmasana, Padma Rong Telu, dan bangunan lainnya.

Struktur pelataran ketiga diyakini mencerminkan tiga tingkatan dalam kosmologi dunia. Pertama, pelataran terbawah melambangkan tempat manusia, pelataran kedua adalah tempat di mana para dewata bersemayam, dan pelataran teratas mencerminkan nirwana, yang merupakan tempat kediaman Tuhan Yang Maha Esa.

Lokasi Pura Taman Ayun

Pura Taman Ayun terletak di desa Mengwi, Kabupaten Badung, sekitar 18 kilometer sebelah barat laut Kota Denpasar, Bali, Indonesia. Untuk mencapai tempat ini, kamu membutuhkan waktu sekitar 60 -90 menit berkendara atau 31 km dari Pelabuhan Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Pura Taman Ayun cukup mudah diakses, dan ada area parkir yang luas untuk pengunjung. Jika kamu tidak ingin mengemudi sendiri, kamu juga dapat menyewa sepeda motor atau menggunakan layanan taksi atau ojek (motor taxi) lokal untuk mencapai Pura dari lokasi manapun di Bali. Pastikan untuk memeriksa peta atau GPS agar tidak tersesat.

Jam Operasional  dan Harga Tiket Masuk Destinasi

Pura Taman Ayun beroperasi di hari Senin-Minggu mulai dari pukul 08.00 – 18.00 WITA. Walaupun beroperasi setiap hari dari jam 08.00 – 18.00 WITA, ada periode tertentu yang bisa menjadi pilihan yang lebih baik bagi kamu yang ingin mengunjungi wisata ini. Sebagai contoh, antara pukul 09.00 dan 10.00 pagi karena waktu ini cenderung memiliki tingkat kunjungan yang lebih rendah, sehingga kamu dapat menikmati keindahan pura dengan lebih tenang.

Harga tiket masuk ke pura dapat berubah dari waktu ke waktu, jadi penting untuk memeriksa harga tiket yang terbaru sebelum kamu mengunjungi pura tersebut. Per Oktober 2023, harga tiket masuk untuk wisatawan lokal adalah sekitar Rp15.000 untuk orang dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak. Sedangkan untuk wisatawan asing akan dikenakan biaya sebesar Rp30.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak. Kemudian untuk memudahkan transaksi, menawarkan berbagai alternatif pembayaran, seperti tunai, kartu kredit/debit, dan QRIS. Namun penting untuk dicatat bahwa harga tiket dan Metode pembayaran dapat berubah tergantung pada aturan dan kebijakan yang berlaku saat kamu berkunjung. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memeriksa harga tiket yang terbaru dan informasi terkait di situs web resmi atau sumber terpercaya sebelum pergi ke Pura Taman Ayun.

Review

Masih ragu untuk mengunjungi pura yang satu ini? Yuk, intip beberapa ulasan yang diberikan wisatawan yang sudah pernah berkunjung ke pura ini. Ulasan dibawah ini dilansir dari Tripadvisor.

1. Kadek Wijarna (★★★★★)

Pura ini sangat indah dikelilingi oleh telaga yang menambah keindahanya. Banyak tourist juga yang berkunjung saat kondisi normal. Saat hari raya Galungan dan Kuningan banyak dikunjungi wisatawan lokal.

2. Kadek Wijarna (★★★★★)

Selain untuk bersembahyang bagi umat hindu, di taman ayun ini juga bisa memancing ikan dan bersantai bersama keluarga. Tempatnya adem sejuk bersih dan terawatt

3. Elsa (★★★★☆)

Tempat yang sejuk, tenang, dan syarat sejarah. Wajib dikunjungi saat berlibur ke Bali. Pasti para pengunjung akan kagum dengan tempat ini.

4. Lannia (★★★★★)

Di Pura ini anda akan melihat bangunan khas hindu berupa pura-pura dan jika pas waktunya maka akan ada umat hindu yang sedang sembahyang. Wisata ini cocok untuk anda yang suka dengan wisata budaya.

5. Dhanny (★★★★★)

Salah satu objek wisata yang bersejarah, tentang kebudayaan Bali. Lokasinya mudah dicari dan mudah terlihat, pas di pinggir jalan raya. Bersih, indah dan pemandangannya sangat menakjubkan. Halamannya sangat luas, cocok untuk liburan keluarga dan anak-anak. Banyak wisatawan asing yang juga menyukai object ini, karna mempunyai nilai sejarah tentang raja mengwi.

6. Demy De (★★★★☆)

Pura yang berada tidak jauh dari objek wisata alas kedaton dan dapat ditempuh 1 jam perjalanan dari Kuta ini telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Pura Taman Ayun sangat asri dan sejuk dengan taman yang terawat baik serta rumput yang hijau di sepanjang jalan. Jika anda sedang berkunjung ke objek wisata alas kedaton tidak ada salahnya jika anda juga mampir ke tempat ini.

Itu dia informasi menarik seputar Pura Taman Ayun. Tertarik untuk mengunjungi destinasi yang satu ini da mengeksplorasi keindahannya? Segera hubungi Prima Bali Tour Services untuk mendapat insight dan informasi lebih banyak.