Prima Bali

logo prima bali

Pesona Alam Taman Nasional Bali Barat

Pesona Alam Taman Nasional Bali Barat

Taman Nasional Bali Barat
Foto: Taman Nasional Bali Barat (maps.google.com)

Taman Nasional Bali Barat terletak di bagian barat dari pulau Bali di Indonesia. Taman nasional ini mempunyai luas 19.002,89 Ha yang terdiri dari kawasan terestrial seluas 15.587,89 Ha dan kawasan perairan selaus 3.415 Ha serta sebagai salah satu kawasan kawasan konservasi.

Secara geografis berada diantara 114º26′ – 114º35′ Bujur Timur dan 5º5′ – 5º13′ Lintang Selatan. Secara administratif lokasi kawasan Taman Nasional Bali Barat termasuk dalam Provinsi Bali, Kabupaten Jembaran dan Kabupaten Buleleng.

Taman Nasional Bali Barat terdiri dari berbagai habitat hutan dan sabana. Di tengah-tengah taman ini didominasi oleh sisa-sisa empat gunung berapi dari zaman Pleistocene, dengan gunung Patas sebagai titik tertinggi di tempat ini. Sekitar 160 spesies hewan dan tumbuhan dilindungi di taman nasional ini, seperti banteng, rusa, lutung, kalong dan aneka burung.

Taman Nasional ini merupakan tempat terakhir untuk menemukan satu-satunya endemik Bali yang hampir punah, Jalak Bali di habitat aslinya. Taman Nasional Bali Barat mempunyai potensi yang khas yaitu adanya spesies Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang merupakan spesies burung terlangka di dunia. Burung pesolek ini di alam jumlahnya tidak lebih dari empat ekor saja.

Beberapa potensi sumber daya alam lainnya yang menarik bagi penelitian dan rekreasi, diantaranya satwa banteng (Bos Javanicus), hutan alam murni Sawo kecik (Manilkara kauki), hutan mangrove, biota laut, sumber air panas alami, panorama alam hutan dan pantai serta objek peninggalan budaya.

Letaknya yang berada di pusat tujuan wisata (Pulau Bali), dan didukung oleh fasilitas baik akomodasi, transformasi maupun atraksi wisata budaya yang telah dikelola dengan baik, menjadikan taman nasional ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Sejarah Taman Nasional Bali Barat

Sejarah pembentukan Taman Nasional Bali Barat dimulai pada tahun 1947. Kala itu melalui Keputusan Dewan Raja-Raja di Bali Nomor E/1/4/7/47 pada tanggal 13 Agustus 1947 tentang penetapan kawasan Taman Pelindung Alam Bali yang mencakup kompleks Banyuwedang dengan luas 19.365,8 hektar.

Selanjutnya pada tahun 1970 keluar keputusan terkait status burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 40/Kpts/Um/8/1970 bahwa Jalak Bali dinyatakan sebagai hewan langka yang berstatus dilindungi.

Pada tanggal 14 Oktober 1982, kawasan Taman Nasional Bali Barat dideklarasikan pada saat kongres Taman Nasional sedunia dilangsungkan di Kota Denpasar, Bali. Hal ini sejalan dengan Surat Pernyataan Menteri Pertanian No.736/Mentan/X/1982.

Surat pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kawasan dengan luas 77.727 Ha yang terdiri dari Cagar Alam seluas 2.250 Ha, Suaka Margasatwa Bali Barat seluas 19.558,5 Ha, Hutan Lindung seluas 55.312,5 Ha, serta wilayah perairan pantai seluas 6.280 Ha menjadi Taman Nasional Bali Barat.

Akhirnya pada tanggal 15 September 1995 Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/95. Surat keputusan ini dikeluarkan dengan tujuan untuk mengukuhkan penetapan atas status dari kawasan Taman Nasional Bali Barat yang mempunyai luas 19.002,89 Ha.

Flora dan Fauna Taman Nasional Bali Barat

Taman Nasional Barat Bali, Jalak Bali
Foto: Jalak Bali (balisafarimarinepark.com)

Sekitar 160 spesies hewan dan tumbuhan dilindungi berada di taman nasional ini, termasuk banteng, rusa, lutung, kalong dan aneka burung. Kawasan ini juga merupakan habitat asli satwa endemik yang menjadi ikon Pulau Bali yaitu burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). Ahli burung asal Inggris Baron Stressmann menemukan burung Jalak Bali pada 24 Maret 1911.

Penemuan itu terjadi ketika Kapal Ekspedisi Malaku II yang mengangkut para peneliti terpaksa mendarat di Singaraja selama 3 bulan. Dia menemukan sebaran Jalak Bali mulai dari Bubunan sampai Gilimanuk. Jumlahnya masih terbilang ratusan dan hidup berkelompok.

Tetapi, dari tahun ke tahun daerah sebaran burung pesolek yang juga disebut Curik Bali ini makin menyempit. Seiring jumlah populasinya yang kian susut, pelestarian Jalak Bali terus dipacu. Di Desa Sumber Klampok, salah satu desa penyangga taman nasional, pengunjung dapat melihat dari dekat kiprah para pegiat penangkaran Curik Bali itu.

Tak hanya dikenal berkat konservasi satwanya, Taman Nasional ini berada di dua kabupaten yaitu Jembrana dan Buleleng, sehingga menyimpan pesona lain. Kehidupan sosial budaya dari 13 etnis yang bermukim tak jauh dari kawasan Taman Nasional berpadu selaras dengan upaya pelestarian.

Taman Nasional ini terdiri dari beberapa tipe vegetasi, antara lain hutan mangrove, hutan pantai, hutan musim, hutan hujan dataran rendah, sabana, koral, padang lamun, pantai berpasir, perairan laut dangkal dan dalam. Bagian tengah kawasan ini didominasi oleh sisa-sisa empat gunung berapi dari Zaman Pleistosen. Kini Gunung Patas merupakan titik tertinggi di tempat ini.

Lokasi

Secara geografis berada diantara 114º26′ – 114º35′ Bujur Timur dan 5º5′ – 5º13′ Lintang Selatan. Secara administratif lokasi kawasan Taman Nasional Bali Barat termasuk dalam Provinsi Bali, Kabupaten Jembaran dan Kabupaten Buleleng. NBB ini memiliki area seluas 77.000 Ha. Dari Kota Singaraja, TNBB berjarak sekitar 81 KM.

Areanya meliputi Semenanjung Prapat Agung, Pulau Menjangan, Banyuwedang, Teluk Terima, Tegal Bunder, Klatakan, dan Cekik. Akan tetapi, separoh kawasan Taman Nasional ini berada di Semenanjung Prapat Agung. Kawasan TNBB ini terdiri atas sabana, stepa, berbagai macam habitat hutan. Di tengah-tengah taman nasional ini, terdapat sisa-sisa gunung api purba dari zaman Pleistosen.

Harga Tiket

Untuk masuk ke TNBB ini wisatawan domestik hanya perlu membayar Rp. 10.000/orang dan Rp 20.000 untuk wisatawan asing. Sangat terjangkau bukan  untuk seukuran Taman Nasional yang fasilitasnya lengkap seperti ini?

Tetapi ini belum termasuk biaya retribusi dan aktivitas wisata di sana. Jika kamu ingin menikmati aktivitas wisata seperti snorkeling, diving, trekking, kamu bisa membayar lagi untuk bisa menikmati aktivitas tersebut. TNBB buka setiap hari mulai jam 08.00 – 18.00 WITA. Kamu bisa datang ke sini pagi hari sebelum matahari terik untuk bisa mengeksplorasi seluruh kekayaan potensi wisata alam di TNBB.